Allah tidak melihat hasil tapi Proses
Maret 28, 2009
Mudah mudahan ini bisa membuat kita ingin selalu berlaku baik khususnya buat saya pribadi.
Walaupun seorang yang penalaran dan daya tangkapnya tidak seperti orang laen yg pintar, namun dia selalu melakukan kebaikan yg mungkin hasilnya tidak terlihat bagi kebanyakan orang. Menurut saya itu baik.
Namun disisi laen, ada orang pintar menerima pengetahuan. namun perbuatannya tidak menunjukan dia telah mengetahui ilmu yang di dapatnya. Menurut saya ada ngga’ baiknya.
Tidak perlu berkecil hati mempunyai sedikit pengetahuan, selama diri ini mau mengamalkannya dan masih berusaha ingin mendapatkan lebih pengetahuannya.
dan tidak perlu bertinggi hati bila merasa banyak bisa, kalau kita blum dpt mengamalkannya.
dimata Allah itu semua sama, yang penting setiap saatnya selalu berbuat baik dan baik lagi.
mari berkaca untuk yg lebih baik.
Cerita kecil hidup manusia 1.
Desember 2, 2008
Berawal dari biasa biasa semuanya, seperti kebanyakan manusia pada umumnya, tidak memiliki banyak jumlah uang, dan setelah bekerja cukup lama akhirnya memiliki sebidang tanah beserta rumah dan keluarga kecil bahagia, dgn di karunia beberapa org anak. pertengkaran 2 kecil pernah dilalui di dalam keluarga, itu lumrahlah, karena hidup berdampingan. Tak terasa sekian lama dia sudah mengarungi bahtera hidup rumah tangga, dengan di tandainya anak2nya yg sudah menginjak dewasa.
tidak ada yg ganjil dlm hidupnya semua terisi dengan penuh kasih sayang. ada hutang yg harus di bayar, ada kesenangan yang harus di beli, dan senyum tawa menghiasi hidupnya. usia semakin berkurang, dan di temani sakit yg menghinggapi dlm hidupnya. usia kerja masuk masa pensiun, dimana posisinya siap di gantikan oleh yg lebih muda. saat saat itulah hidupnya mulai rutin mendekatkan diri kepada sang pencipta. Sampai pada akhirnya dia meninggalkan anak-anak dan istri tercinta untuk selama lamanya.
Secarik kertas di tuliskan olehnya,
Untuk orang yg ku tinggalkan
Jgn pernah menangis untukku yg merasa di tinggalkan, karena aku bukan milik mu
berdoalah anakku untukku karena doamu akan meringankan hidupku di alam selanjutnya
bahagiakanlah ibumu karena sorga ada di telapaknya.
Sodaraku berbuatlah baik selalu, karena kau pun akan menyusulku
Yang merasa teman Maafkanlah aku atas kesalahan yg aku perbuat.
tersenyumlah karena itu bagian dari ibadah.
cintaku bertemu di sorga
Masuk Sorga kah aku ?
Oktober 10, 2008
Alhamdullilah Kita masih hidup nih, Kita bahas yuk ?
Kewajiban yg harus di jalankan sebagai manusia islam, ada banyak sekali, namun untuk yang biasa dan harus dilakukan sehari2 adalah SHOLAT 5 waktu.
GIMANA SHOLAT KITA, Sudah tertib dan benar menurut ajaran Islam?
Setiap Manusia mempunyai harta yg di dapat dan telah dimanfaatkan.
GIMANA INFAQ KITA, harta yg selama ini sudah kita dapat dan nikmati ada sebagian hak org lain
Alquran adalah KItab suci agama kita yg selama ini kita yakini kebenaran dan kesempurnaannya
BACA & PAHAMI ALQUR’AN KITA, setiap hari/bulan atau bahkan tauanan ingat itu walau satu ayat
Dengan Membaca ALQUR’AN sekaligus memahami dan mengamalkan Insa Allah pengetahuan dan keimanan kita bertambah,
Harta yg sudah kita infaqkan, dapat menambah keyakinan kita untuk mendekatkan surga pada kita
Dengan Sholat yg tertib dan benar sesuai ajaran Nabi, niscaya akan mencegah perbuatan keji dan Munkar.
Dalam hidup kita diharuskan Optimis, Maka bangunkan diri untuk optimis masuk Sorga.
Kalo ada yg mau nambahin boleh isi komentar ya supaya makin optimis, hihihihihihihii
thank’s
Seorang Tukang Kayu (Fr : Email Forward)
Agustus 27, 2008
perusahaan konstruksi real estate.
Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.

Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya,
tetapi keputusan itu sudah bulat.
Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk
dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa.
Ia ingin segera berhenti.
Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan.
Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.
Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak
begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
” Rumah ini adalah rumah kamu,” kata sang pemilik perusahaan.
” Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu.
Betapa malu dan menyesalnya.
Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama
sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh.
Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik.
Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan
yang terbaik.
Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan
dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri.
Seandainya kita menyadarinya, sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan rumah yang sedang kita bangun.
Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.
Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.
Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.
” Seorang bijak pernah mengatakan demikian :
Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu.
Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu.
Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu.
Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu.
Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri.
Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang
sesungguhnya.”
Cukup Itu Brapa ?
Agustus 27, 2008
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata “Cukup”